Ulang tahun Selamat ulang tahun ya Neng. Semoga semua yang Neng inginkan terwujud. I think, hope and wish this is going to be a(nother) big year for you. Aa akan terus support kamu. I love you. Rgds. Labels: love Diaper Bag Zaralde Asuhan Mudah-mudahan apa yang gua tulis di bawah gak dianggap menyombong dan bisa memotivasi beberapa orang. Anak Asuh - Guru Asuh Di agama gua, kebiasaannya adalah 2.5% dari income kita berikan pada fakir miskin. Dari jaman gua kuliah 2.5% ini gua pakai untuk membiayai pendidikan anak asuh. Sekarang gua lagi mengontrak 1 anak untuk 3 tahun ke depan. Gua mikirnya, daripada memberikan dalam bentuk makanan, pendidikan lebih membekas kepada orang yang tersantun. Mikirnya lagi, daripada mereka ada di jalan mending kita sekolahin karena ada banyak sekali anak-anak yang putus sekolah Tapi kemaren pas ke Indonesia ada sesuatu yang agak merubah logika gua. Gua gak sengaja nonton Kick Andy dalam episode di mana dia mengupas tenaga pengajar di Indonesia. Ada satu guru yang sampe sekarang masih honorer setelah 15 tahun. 15 tahun man! Jujur aja 15 tahun terakhir di Indonesia, presiden yang menjabat sudah Suharto, Habibie, Gus Dur, mega dan SBY. Gak ada satu presiden pun yang, jika pun berusaha, berhasil memperbaiki hidup guru ini. Indonesia juga tercatat sebagai negara yang memberikan anggaran pendidikan terkecil sedunia. Ini udah jaman SBY. Anggaran pendidikan ini ditranslasikan ke bangunan, maintenance, sistem, dan gaji guru. Wajah guru berjilbab itu teus rada ngebekas di kepala gua. Iya selama ini gua punya anak asuh. Gua asuh dia agar dia tenang belajar. Tapi gua baru nyadar bahwa yang ngajar anak asuh gua banyak yang kelapran. banyak yang gak punya keamanan masa depan. banyak yang kerja dobel. dan ironisnya mereka lah yang membekali generasi depan untuk menjadi generasi unggul. mau unggul sebelah mana kalo yang ngajar juga laper? Gak sengaja setelah nonton ini, gua pergi ke Plaza Indonesia dan Pacific Place. Gila, tempat itu luar biasa exclusive. Gua perhatiin baik-baik marmer lantai dan dindingnya. Ini kalo uangnya buat nyantunin guru honorer, bisa cover berapa orang ya? Gua liat butik-butiknya, sepi karena udah kebanyakan shopping mall yang high end seperti ini. Sepi dan megah. Gua gak kebayang gimana perasaan guru honorer itu kalo mereka ngelintas depan toko-toko ini ya. Gua masih terikat kontrak dengan anak asuh gua sampe 3 tahun ke depan. Dari sini gua punya niat untuk mengalihkan zakat gua. Daripada punya anak asuh, mending gua punya guru asuh. Kita bisa cari guru honorer yang udah belasan tahun dan kita santunin mereka. Well semoga aja mereka mau nerima barang beberapa ratus ribu rupiah. Ini baru rencana, baru niatan. Semoga gua punya cukup rejeki untuk merealisasikannya. Pengalaman Gua dan Anak Asuh Omong-omong tentang anak asuh, ada yang berminat gak membiayai anak asuh? Gua mau cerita seidkit tentang skema pengalaman anak asuh gua yang sekarang. Jadi gini, ada sekumpulan mahasiswa ITB yang menyisihkan waktu mereka untuk mengajar sebuah SD dan SMP di Bandung utara. SD dan SMP ini sangat kecil dan kekurangan guru dan jadilah mereka mengajar di sana tanpa bayar. Kemudian sekolah ini akhirnya ditutup dan anak-anak kecilnya terpaksa mencari sekolah. Di titik ini masalah mulai timbul karena anak-anak kurang mampu ini harus bayar SPP di sekolah baru. Para mahasiswa ITB ini lantas kirim email ke milis ITB apakah ada yang berminat jadi orang tua asuh. Gua salah satunya. Gua salut sama mahasiswa-mahasiswa ini. mereka bersedia jadi hub bagi penyantun dan dan tersantun. kita kirim uang SPP kita ke bank account mereka. Mereka yang mendistribusikannya. Bukti-bukti SPP, dan semua pemeblian mereka scan dan kirim balik ke penyantun dan mereka melakukan ini semua tanpa bayar. Tips Jadi Orang Tua Asuh Ini kalo ada yang berminat jadi ortu asuh: 1. Supply Tentukan aja berapa yang kita mampu. Sebagai gambaran, kalo kita punya income 5 juta sebulan, maka zakat 2.5%nya Rp 125.000. Kalo mau lebih ya lebih bagus. 2. demand Dari sini kita lihat demand dari anak asuh kita apa saja dari yang premier sampe tertier. Contoh berdasarkan priotitas: SPP: 50.000 / bln perlengkapan sekolah: 20.000 / bln transport: 30.000/bln jajan: 10.000/bln Nah terserah kita mau cover semuanya atau nggak. Makin besar budget kita, makin banyak yang kita bisa cover. SPP jelas harus dicover, itu basic. Perlengkapan sekolah seperti seragam dan buku itu terserah. Kalo gua mikirnya, gua mending biayain buku-buku dia juga karena buku lumayan mahal. Transport? Terserah. Yang jelas itu ngaruh. sering kali kita takut kalo kita ngasih duit, itu disalahgunakan. Kalo gua, gua modal percaya aja. Yang jelas, kita udah kasih uang transport untuk pergi ke sekolah, kalo dia pake buat yang lain, resikonya tanggung sendiri. Jajan? terserah. 3. Kontrak Oke, kita udah tau supply dan demandnya. Sekarang kita ikat diri kita dan mereka dengan kontrak. Again, ini saran gue aja. jadi kita pake perjanjian bahwa kita akan menanggung dia selama 1 atau 3 tahun. kalo ambil anak SMP, atau SMA sebaiknya ikat sampe dia lulus. Kenapa? Soalnya tanggung kalo kita biayain cuman 1 tahun aja. masuk kelas 1 tapi gak lanjut ke kelas dua, dia putus sekolah tanpa dapet ijazahnya. Kalo kita ikat sampe dia lulus, maka setidaknya pas kontrak berakhir, dia punya ijazah SMP atau SMA itu. Dan itu penting bagi mereka. Yang win-win bagi kita dan mereka adalah kalo kita ambil anak-anak kelas 4-5-6 SD, atau 1 2 3 SMP atau 1 2 3 SMA. Jelas. kalo ambil dari kelas 1 SD, memang murah tapi ikatannya lama juga ya 6 tahun. 4. Exit Clause Banyak orang yang berniat baik, berhenti di sini. Kontrak? yang bener aja pikir mereka. Serius amat? Kalo gua bilang ini langkah paling oke bagi semua orang. Dan ingat bahwa yang menulis kontrak itu ya kita, bukan mereka. Jadi kita yang menentukan. Kita bisa tulis dalam kontrak itu, kalo kita sebagai penyantun kehilangan pekerjaan atau meninggal, maka kita otomatis sudah tidak aktif lagi menyantun. Ini jadinya bagus dari awal. dari awal, yang tersantun udah tahu bahwa dia gak bisa minta lagi kalo kita kena musibah. Bagi anak asuh, ini adalah ketenangan bagi mereka. Dan bisa memotivasi mereka untuk belajar. Ditanggung 1 tahun lebih baik dari pada nggak sama sekali. Ditanggung 3 tahun SMP lebih baik dari pada 1 tahun. 5. Syarat-Syarat dalam banyak program beasiswa yang mewajibkan penerima beasiswanya berprestasi. IPK harus 3. Ranking harus 1. Dalam kasus anak asuh free lance seperti ini, kita harus bijak juga sebagai ortu asuh. Jangan memaksakan hal yang sama jika tidak perlu. kenapa? karena ini: Kenyataan bahwa mereka perlu disantun membuktikan bahwa mereka kurang mampu. Dan dalam banyak kasus, keluarga kurang mampu itu, gizinya kurang. Gizi keluarga kurang, jangan terlalu ngarep tu anak brilyan. Dari pengalaman gue, gua sih masukin klausa yang ringan, bahwa santunan tetap berjalan dengan syarat sang tersantun naik kelas. Gua gak peduli dia ranking 1 atau 40.selama dia naik kelas, gua hepi. Malah ketika gua akhirnya ketemu Hani di Bandung dulu, gua bilang ke dia, selain belajar, kamu harus ikut osis ya. Biar kamu gaul dan berkembang. Kamu masih gak ngerti apa yang saya omongin sekarang tapi Insya Allah 10 tahun lagi kamu ngerti kenapa. Mahasiswa-mahasiswa ITB ini masih aktif menjadi penghubung antara penyantun dan tersantun. kalo ada yang berminat tolong kirim email ke gua dan gua akan hubungkan dengan mereka. Gua sendiri, seperti yang gua bilang di atas, mungkin akan coba untuk cari guru asuh dalam waktu 2-3 tahun ke depan, setelah kontrak gua dan Hani selesai. Bukannya apa-apa, baru mampu nyantunin 1 orang booossss. Dan sementara gua udah paham bener kebutuhan anak-anak asuh, gua masih blank akan guru asuh. Kemungkinan besar kebutuhan mereka sama aja dengan kebutuhan pekerja biasa kali ya? Sekali lagi, kalo ada yang berminat jadi orang tua asuh, hubungin gua di adhitya_mulya@hotmail.com Kalo ada yang mau sharing pengalaman jadi orang tua asuh, tolong dishare. Kalo ada yang punya insight ttg kehidupan guru atau guru honorer, tolong dishare juga. Thanks! Labels: islam Poligami Lagi Allah pernah berfirman bahwa Al-Quran adalah mukjizat yang paling hebat. Artinya setiap ayat memiliki arti tersurat dan arti tersirat. Di sisi siratan ini lah banyak ilmu biologi, matematika, fisika dan kimia yang terpendam. Sejauh ini gua berhasil nemu artikel dari scientist dan dokter yang berhasil mensistesiskan siratan itu untuk menjawab kenapa babi itu haram, bahwa di balik Sekarang poligami. Kemarin waktu di Poligami di jaman batu
Di Palermo ada orang kaya bernama Roger (beranak 1) dan janda miskin bernama Maria (beranak 2).
Agama Roger tidak membolehkan poligami. Agama Rujari membolehkan poligami. Roger dan Rujari melihat di masing-masing
Rujari memutuskan untuk menikahi Maryam – ini dengan restu dari istri pertamanya. Dari pernikahan kedua ini, mereka memiliki 1 anak lagi. Selang berapa lama, Rujari meninggal meninggalkan warisan 1000 dinar. Berapa anak di Siria yang beruntung? Jawaban: 4.
Gak punya uang? Kalo kuat beristri 2 kenapa gak kuat beli tiket ke Irak? Bukankah syarat mutlak poligami adalah kaya? Sekali lagi, kalo cukup kaya untuk beristri 4, kenapa gak cukup kaya untuk beli tiket ke daerah perang? Kalo ngerasa cukup pinter untuk poligami, kenapa yang kayak gini gak kepikiran? Wanita di Irak ada yang menjadi pelacur dan di Alasan-Alasan Berpoligami Gua sendiri, karena Islam memang membolehkan poligami, ya sudah gua setuju poligami. Tapi gua bener-bener pelajari dulu kenapa dan ajaran di baliknya. Penulis benar2 mengguinakan akalnya saja… Menurutku penulis hanya mau melakukan perintah agama kalau itu masuk di akal (nya), kalo ga; masuk akal dia ga’ mo baca (lihat penyataanya:”Bagaimana kita bisa mengerti apa yang Allah berusaha pesankan pada kita kalau kita gak ngerti bahasa arab dan gak berusaha membaca artinya? Umur gua 29 tahun dan baru di tahun 2007 lah gua berikrar, gua gak mau baca Qur'an Labels: islam Aldebaran 19 months ![]() Dalam bahasa Inggris, daam hal anak umur di bawah 2 tahun ada istilah 'terrible two'. Ini merujuk kepada kondisi di mana anak di bawah 2 tahun itu luar biasa rewel. Sebenernya kejadian ini wajar dalam beberapa artian, Sejak seorang anak berada di atas 1 tahun,
Untuk menanggulangi ini gua dan Ninit melakukan beberapa hal. Kita pengen dia eksperimen sepuasnya Ini karena di saat eksperimen otaknya berputar untuk menemukan logika dan meski meja tamu kita bisa berubah jadi seperti meja bedah film horor, Insya Allah dia ngerti buah dari eksperimen itu. Untuk itu, semua mainan dan semua barang yang dia bisa makan, ditaro di bawah. Pecah belah dan barang-barang beracun seperti, oh I dont know, racun tikus, itu di atas. Kita gak pernah capek ajarin dia untuk makan sendiri dan megang gelas sendiri. Hasilnya lumayan. Aldebaran semakin sedikit tumpah-tumpah kalo minum. Masalah dengan minum adalah dia jadi sering sekali ngebanjur lantai dengan susu coklat dan orange juice. Kita kasih dia kursi dan meja sendiri sebagai area eksperimen. Sebelum itu dia ekspermien di mana-mana. Kita Pengen Dia Kaya akan Kosa Kata Kalo kita lagi jalan, kita pasti tunjuk, that's a tiger. Loook at the cars Alde, wow there are so many cars. How many cars Alde? Let's count together. Look at the black bird alde. The black bird is flying! Sebenernya rada aneh ngajak dia ngomong dengan kalimat penuh. Tapi setidaknya lama-lama dia ngerti bahwa benda itu adalah burung dan burung itu berwarna hitam. burung yang hitam itu sedang terbang. Tentunya di kebanyakan waktu dia gak merhatiin. Tapi kuncinya di sini gak nyerah dan terus ajak dia ngomong. Dan ajak dia ngomong dalam 2 bahasa. Gua ragu dengan konsep natural born something. Gua percaya bahwa personality kita adalah hasil didikan lingkungan sekitar dan orang tua. Sebagai seorang bungsu gua terlatih untuk melihat dan mencerna dan itu adalah yang gua cerna. Kita adalah hasil didikan. Mendidik Alde menjadi decision maker metode kita sangat gampang bahkan cenderung primitif karena kita juga masih belajar jadi orang tua. Kalo kita lagi jalan pagi atau jalan sore, dia yang jalan di depan. Kita gak gandeng dia. Biarin aja dia mau belok kiri atau kanan. Mau dia kejar kucing atau kejar burung, terserah. Dia yang memutuskan mau ke mana. Kalo Alde bingung, kita bantu dengan pilihan dan ini yang paling sering kita lakukan. Alde mau ke mana? Ke kiri atau ke kanan? Kalo Alde lagi ganti baju untuk pakai piyama, kita tanya Alde mau yang merah atau yang biru? sambil menyodorkan keduanya pada Alde. Kalo ke super market, Alde mau coklat atau pocky-pocky? Kita Pengen Alde Percaya Diri & Menggunakan Potensinya Ketika Alde melakukan sesuatu yang salah atau bahaya. Kita larang. Tapi ketika Alde berhasil melakukan sesuatu, kita tepukin tangan dan "bilang good job Alde!!" Ini hasilnya sangat menggembirakan. Alde mulai bisa meng-apresiasi dirinya. Di saat dia berhasil melakukan sesuatu, dia berkata 'yay' sambil menyelamatkan diri dia dengan tepuk tangan pada diri sendiri. Dari 14 bulanan dia mulai bereaksi seperti ini. Contohnya pernah suatu kali dia naro apel di atas gelas dan bawa semua itu tanpa jauh dari dapur ke meja makan. Bagi kita mungkin itu remeh banget dan mikir 'ah gitu aja bangga' Tapi eh siapa tahu bagi dia itu adalah mile stone yang sangat-sangat tinggi. Ya gak? Dan di 19 bulan, kita mulai dengar dia bilang 'good job' pada diri dia sendiri. Bagi gua kedua hal di atas adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Dia bisa menghargai diri dia sendiri. Banyak orang tua yang gak sadar betapa pentingnya hal ini. Kalo kita gak bisa menghargai diri sendiri, orang akan bisa melihat itu dalam perilaku kita dan mereka gak akan menghargai kita. Kalo kita percaya diri. Itu akan terpancar dari diri kita dan orang akan menghargai kita juga. Pernah gak ketemu orang yang ketika dia ngomong atau presentasi, karismanya terasa dan kita jadi terkesan dengan apa yang dia omongin? Itu percaya diri. Dan itu yang harus kita pupuk. Di umur 12 bulan dia mandiri bisa naik turun tempat tidur sendiri. Ini karena beberapa kali dia bangun dan nangis minta gendong kita gak kasih. Malah, kita kasih tau dia cara naik turun tempat tidur sendiri. Hasilnya, dia gak pernah bangun nangis lagi. Kita kasih tau dia cara buka pintu sendiri dan di umur 12 bulan udah bisa. Jadi kalo bangun dan bapak ibunya gak ada, dia gak perlu nangis. Dia bisa bergantung pada dirinya sendiri. Ini kita cenderung beruntung sih. Gerendel rumahpintu rumah kita cukup rendah untuk Alde bisa raih. Segera setelah gua sadar, gua langsung ajarin dia buka tutup pintu. Soalnya selain belajar mandiri, bagus untuk keselamatan. Api adalah sesuatu yang secara alami orang takuti Bayi juga takut sama api. Tapi pintu bukan sesuatu yang alami. Pintu adalah buatan manusia yang pengoperasiannya kita harus ajarkan. Makanya in case kebakaran, gua harap dengan tahu cara buka pintu, Alde bisa langsung melakukannya. Kita kasih tahu cara minta ke kamar mandi dan sekarang kalo mau ke kamar mandi, narik-narik ibunya. Kita Pengen Alde Bersosialisasi Ketika kita melihat kecenderungan ketergantungan pada kita, kita mulai masukin dia ke dalam day care. Sayangnya day care di Singapur mahal banget jadinya kita masukin dia dua kali seminggu aja. Tapi ini adalah investment kita terbaik sejauh ini. Dengan masuk day care, ada beberapa perkembangan yang kita lihat: 1. Alde jadi lebih mandiri lagi. Dia ngeliat beberapa temannya megang gelas dan minum sendiri dari pipet. Sebelum day care, ia selalu gak mau minum dari pipe dan malah dia maenin. Sekarang dia gak terlalu sering maen sama pipet dan akhirnya menggunakan pipet untuk minum. 2. Dia belajar dari teman-temannya beberapa kosa kata yang berbulan-bulan kita gak bisa. 3. Dia jadi sadar bahwa buah-buahan seperti apel ternyata banyak yang makan. 4. Dia belajar dari teman-temannya beberapa tindak-tanduk. 5. Ninit bisa punya waktu lebih untuk ngembangin bisnis zaralde (yang btw, booming!) Kalo gua pikir-pikir bener juga sih. - Kalo kita masukin day care meski mahal, dia dijaga oleh orang-orang yang berkualifikasi. Bukan pembantu yang lulus SD aja nggak. - Orang-orang berkualifikasi ini tahu cara handle anak dan psikologi anak juga, gak kayak pembantu kita yang terkadang gak punya pengalaman. Mereka gak salah, kitanya yang salah mempercayakan anak pada mereka. - Day care punya program yang terstruktur. Serahin anak ke pembantu? anak kita akan terstruktur nonton sinetron. Tapi yang paling penting adalah Alde mulai make friends. Itu yang luar biasa penting. Kalo kita ingin dia menjadi mahluk sosial, biarkan dia interkasi dengan anak lain. Lagi-lagi semuanya kembali pada kepercayaan yang gua anut di mana pribadi dan kecerdasan anak itu gak semuanya terpatri saat dalam DNA dia lahir. Makanan, lingkungan dan cara lingkungan itu mendidik anak jauh lebih penting, kalo gak sama pentingnya dalam membangun mentalitas anak. Gua suka rada sewot sama orang tua yang bangga-banggain anaknya tapi ketika ditanya resepnya apa, mereka selalu bertolak kembali ke anak itu. "Anak gua sekarang bisa gini lho!" -> wajar ortu bangga sama anak, wajar. "Oh ya? Gimana caranya dia bisa sampe gitu?" "Ntah. Dia langsung aja bisa sendiri. Wah anak gua hebat!" -> Ini yang ngeselin. Untuk beberapa hal memang kecerdasan seorang anak sering mengagetkan orang tua. Contohnya, anak temen baik gue umur 7 bulan udah bisa berdengung sangat mirip dai adzan. Ini mungkin karena dia sering mendengar adzan tanpa bapaknya ajarin. Ini wajar banget. Dan itu adalah contoh dia belajar dari lingkungan. Tapi gak semua hal seperti itu. Don't you know what you are teaching to your kids? Are you sure that's because of them? Atau thanks to your maid? Or thanks to you? Alot of us just don't have a clue. Kita pengen anak kita pinter tapi giliran dia ribut sedikit, kita bentak dia suruh diam. See? apa yang kita pengen sering kali gak sejalan dengan apa yang kita tahu. Kita sering merasa lebih pintar dari anak kita dan mengajarkan dia ini itu benar dan salah, tapi kita gak sadar kalo kita juga harus belajar jadi orang tua. Apakah gua sukses? Gak tau lah. Metode-metode di atas juga gak certified dan gua hanya melakukan semua ini dari observasi saja. Don't take my words for it. Tapi hidup itu bukan game komputer. Apalagi hidup anak kita. Kita semua ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita. Masalahnya terkadang kita sendiri gak sadar bahwa yang kita berikan itu bukan yang terbaik. At least, if we know what we'e doing, we're a bit safer. Sekarang kalo bisa, sharig dong, didikan apa yang kalian berikan pada anak yang berbuah baik? Ajarin apa, jadinya gimana gitu. Sharing ya! Rgds. Labels: aldebaran, kids and parenting, life Loosing My Mojo But not in a sexual way tho hahaha. Gua sedang dalam kondisi yang bagi gua cukup menyedihkan. Sejak tahun 2003 gua selalu mencoba mendeliver 1 karya. masalahnya sekarang gua belum nulis dari februari 2007 sampai maret 2008. Itu adalah jedah satu tahun - terlama gua gak menghasilkan karya dalam bentuk apa pun. Be it script, novel, adaptation, anything. Waktu ada. Waktu selalu ada. Secara kantor gua hanya 15 menit jalan kaki dari rumah. Tapi pulang kantor, selalu ada Alde menunggu dan minta main bareng. Apalagi akhir-akhir ini Alde lebih clingy ke gua. Kalo gua mau ke kantor dia teriak. Kalo pisahan di mall untuk nyewa dvd, dia teriak. But regardless, truth be told, any given day gua memilih untuk memberikan semua waktu gua pada Alde. Jadi waktu bukan masalah. Terus apa masalah gua? Kerja? Bagian ini juga memiliki masalah. I've been making friends with a bohemian couple, the famous indrani.net. dan dari pertemuan dengan mereka gua jadi ingin ikutan les berlayar. Ada kali Indra 4-5 kali ngajakin gua memulai les tapi somehow gua selalu tolak. kebanyakan karena weekend gua harus kerja. Sekali waktu sakit. Dan kesempatannya selalu hilang. kemudian gua ajak dia ikut amazing race 3. yang mana besoknya langsung ada pengumuman dari kantor akan prkembangan downsizing. Gak lucu aja gua ikutan amazing race 3 dan dapet telfon "Adhitya, would you liek a retrechment package?" So that's that. Kerja ini juga memberikan tingkat stress yang sangat tinggi. ketika gua mulai nulis bajak laut beberapa bulan yang lalu, company gua mengalami downsizing dan gua jadinya me-rem pekerjaan menulis untuk konsentrasi ke pekerjaan. Apakah ide juga masalah? Ya. Safe to say bahwa gua kebanyakan ingin cerita dalam bajak laut ini. Dari sejarah raja-raja nusantara - yang ternyata 1 raja bisa punya 3 versi yang gua bingung mana yang bener. Kehidupan sosial Batavia yang sadis dan tidak komedik. Sampe cerita bajak laut itu sendiri yang harus diramu dengan kocak. Ketika seseorang mencoba menggabungkan ketiganya, emosi penulisan jadi naik turun dari bab ke ba. Bukan emosi membaca, tapi emosi menulis. Yang namanya nulis komedi itu moodnya harus pas. ketika mood kita komedik di bab 2 dan kita pindah ke bab 3 yang menerangkan kawasan penjaringan, mood komedi itu hilang. Masuk ke bab 4 yang komedi lagi, sulit sekali mendapatkan mood komedi itu lagi. Trus lagi, proses kehidupan. Ketika gua nulis jomblo, gua masih jadi bujangan happy go lucky type. Nulis GMC gua masih married dengan posisi karir yang masih mencari bentuknya. Nulis TT anak gua masih kecil. Sekarang? gua udah jadi bapak anak satu yang punya portfolio investment besar untuk hari tua dan karir yang mulai speasialis dan hampir diguncang downsize (gua survie btw, alhamdulillah). Dengan cukup jelas, hal-hal yang gua hadapi, jalani dan atasi sekarang jauh lebih penting dan memerlukan kedewasaan berpikir. Dan itu merenggut semua cita rasa komedi gua/ If you look at my blog writings, there hasnt been any single comedic entry for a long, long time. As a recap to all of this, I could be loosing my mojo in writing comedy. Akhirnya untuk bajak laut ini, gua mulai nulis lagi. dan gua memutuskan untuk tidak menggunakan hasil riset 4 tahun dan mulai menulis mengalir begitu saja agar komedinya lepas. Terkadang gua berharap bis aselepas dan serileks Rasdit Kambing jantan atau Endang rukmana. Tapi gua sadar gua gak bisa. Gua punya tanggungan dan actually solid good career to maintain. Dan membalance kedua hal itu dengan menulis is no easy job at all. Oh well. time to try to write again. Brgds. Sekuel Jomblo Guys, mau nanya nih. Gua punya feeling kuat banget untuk melanjutkan novel jomblo. Feeling ini datang dari niat gua untuk menyelesaikan apa yang di sinetron di cut. Jadi ya mungkin materi ceritanya sebagian kecil akan gua ambil dari serial Jomblo walau pun gua bisa jamin itu gak banyak. Menurut kalian gimana? Mau gak baca Jomblo 2? Tolong utarakan setuju tidak setujunya ya. Bukannya gua plin-plan tapi yang baca nantinya kan kalian-kalian juga. So, please speak up. |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |